Surat-surat Umum
3 Yohanes
Pengantar Surat YOHANES
Meskipun 1 Yohanes diklasifikasikan ke dalam bentuk surat, tidak ada karakteristik surat Yunani di dalam tulisan itu. Misalnya, tidak ada salam di awal dan akhir surat. Walau demikian, penulisnya menyatakan bahwa ia yang menuliskan semua itu (1:4; 2:1,7,8,12,13,14,21,26; 5:13). Namun 2 dan 3 Yohanes memiliki standar penulisan sepucuk surat. Surat-surat Yohanes ditulis untuk mendorong pengikut Yesus agar tetap setia pada kebenaran. Walau tak satu pun dari ketiga tulisan itu menuliskan nama Yohanes sebagai penulis, kedekatan dengan Injil Yohanes dalam pemikiran dan bahasa, menimbulkan anggapan bahwa keduanya ditulis oleh orang yang sama. Ia menyebut dirinya āpenatuaā (2Yoh 1:1; 3 Yoh.1:1).
Surat 1 Yohanes bertujuan untuk meneguhkan iman jemaat di tengah maraknya bidat (4:1-5) yang menyangkal bahwa āYesus adalah Kristusā (2:22). Mereka menolak ajaran bahwa Kristus datang dalam rupa manusia, menderita, lalu mati. Penulis surat ini menyatakan bahwa Yesus, Anak Allah, adalah manusia sejati. Ia mencurahkan darah-Nya untuk menghapus dosa manusia (1:7). Ia memiliki tubuh manusia (4:2) dan benar-benar Anak Allah (2:22;3:23).
Surat 2 Yohanes merupakan surat pribadi kepada āibu dan anak-anaknya yang aku kasihiā (1:1). Mungkin yang dimaksud adalah kelompok pengikut Tuhan (komunitas gereja) yang ada di sekitar situ. Surat ini ditulis untuk memantapkan mereka dalam iman (1:12), dan memperingatkan mereka tentang ajaran sesat (7). Juga berisi koreksi atas kebiasaan jemaat menyediakan tempat menginap bagi para pengajar. Hal itu dapat merupakan dukungan terhadap guru-guru sesat (9-11). Itu tidak termasuk perbuatan baik dan benar!
Surat 3 Yohanes ditujukan pada Gayus (3Yoh. 1:1). Gayus telah memberikan dukungan kepada para pekabar Injil yang ingin mengunjungi jemaat (2Yoh. 1:3). Namun Diotrefes, seorang pemimpin gereja yang tidak memiliki semangat penginjilan mempengaruhi gereja untuk tidak menerima para pekabar Injil. Ia melawan otoritas sang penatua, menolak suratnya dan mengasingkan Gayus!
Surat-surat ini membukakan pergumulan gereja lokal pada masa itu, yang juga dihadapi gereja masa kini. Melaluinya kita dapat belajar bagaimana menghadapi permasalahan gereja di masa kini.