Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Bahaya Kompromi dan Kehidupan Gereja
Kamis, 4 Juni 2026 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Wahyu 2:12-17
Audio Ayat
Audio Renungan
Kompromi berarti menurunkan nilai kebenaran demi diterima oleh orang lain yang berbeda penilaiannya. Tujuan kompromi biasanya supaya diterima oleh orang lain, atau menghindari permusuhan. Dalam surat ketiga yang ditujukan kepada jemaat di Pergamus ini kita dipertemukan dengan gereja yang terlibat dalam kompromi. Gereja Pergamus adalah gambaran dari gereja yang mulai hanyut di dalam kehidupan duniawi.
Jemaat Pergamus diperhadapkan dengan pengaruh kuat dari pengajaran Bileam dan Nikolaus, yang menyesatkan beberapa orang di Pergamus (14-15). Dalam Perjanjian Lama, pada mulanya Bileam kelihatan sebagai nabi yang menolak untuk mengucapkan kutuk terhadap Israel (Bil. 22-24). Namun, dalam Bilangan 31:16 dan akibatnya kemudian dalam tradisi Yahudi dan kekristenan, ia dianggap sebagai nabi palsu yang menyesatkan bangsa Israel ke dalam penyembahan berhala dan perbuatan zinah. Hal ini dijelaskan dalam Bilangan 25 (bdk. 2Ptr. 2:15-16; Yud. 1:11). Seperti halnya Bileam, Nikolaus menyesatkan beberapa orang di jemaat untuk kompromi dengan nilai-nilai dan agama Romawi supaya mendapatkan penerimaan sosial, demi mencegah bencana ekonomi di kota-kota Asia.
Akan tetapi, tidak semuanya buruk pada jemaat di Pergamus dan tidak semua berlabel negatif. Tuhan Yesus mengakui bahwa mereka tetap setia dan tidak menyangkal iman mereka kepada-Nya, bahkan pada zaman Antipas, saksi yang setia, yang dihukum mati di kota Pergamus (13). Antipas, karena ia mengikuti jejak Yesus, ia disebut sebagai 'saksi yang setia' yakni sebutan yang dipakai di tempat lain bagi Yesus (Why. 1:5; 3:14).
Renungkan: Inilah pesan bagi kita melalui surat kepada jemaat di Pergamus. Yaitu, "kesetiaan", atau komitmen tegas kepada kebenaran firman Tuhan dan penolakan terhadap kompromi demi mendapatkan status sosial yang tinggi di tengah masyarakat yang tidak mengenal Tuhan. Inilah panggilan kita sebagai gereja Tuhan yang hidup di tengah-tengah dunia, setia mutlak pada Allah dan kebenaran-Nya.