Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Hakikat Keagamaan
Jumat, 27 September 2024 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Markus 7:1-13
Audio Ayat
Audio Renungan
Salah satu cara untuk berbicara mengenai keseluruhan system makna disebut sistem kemurnian, sistem murni (pada tempatnya) dan tidak murni (tidak pada tempatnya) atau sistem tahir atau halal (pada tempatnya) dan najis atau haram (tidak pada tempatnya). Hal-hal ini bisa dikenakan ke individu, kelompok, benda, waktu, dan tempat. Kontroversi yang terjadi antara Yesus dan orang-orang Farisi (dan juga ahli-ahli kitab dalam Markus) mengenai norma-norma kemurnian dapat kita perhatikan di keseluruhan Injil. Yesus tidak menaati peta waktu (Sabat, 3:1-6), atau peta tempat (11:15-16). Ia melanggar peta individu juga: menyentuh orang kusta (1:41), wanita yang menstruasi (5:25-34), dan mayat (5:41). Yesus melampaui peta hal ketika ia menolak upacara pembasuhan tangan (7:5). Bertentangan dengan peta makan, Yesus makan dengan pemungut cukai dan para pendosa (2:15). Dengan menolak peta-peta ini, Yesus menunjukkan penyangkalan-Nya terhadap sistem kemurnian yang berlaku waktu itu. Hampir tidak mungkin bagi orang-orang nomad seperti Yesus dan murid-murid-Nya untuk senantiasa mematuhi hukum-hukum ketat ini, apalagi sebenarnya hukum pemurnian itu awalnya hanya untuk para imam. Yesus melihat bahwa esensi hukum bukanlah hukum itu sendiri, tetapi cinta kepada Allah dengan sepenuh hati (7:6; Ul. 6:4). Orang-orang Farisi lebih mementingkan tradisi oral daripada tunduk kepada Allah sepenuhnyaâkarena itulah mereka disebut munafik. Kemunafikan mereka juga ditunjukkan dengan membiarkan hukum oral mengenai persembahan lebih berkuasa daripada hukum ke-5 (7:10). Mereka kehilangan esensi keagamaan mereka. Esensi keagamaan bukan hukum, tetapi relasi yang penuh kasih dengan Allah. Legalisme membuat manusia tersesat dalam peta-peta kehidupan!