Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Kasih Tak Pandang Bulu
Sabtu, 28 Februari 2026 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Filemon 1:8-16
Audio Ayat
Audio Renungan
Diskriminasi rasial adalah sikap membeda-bedakan orang berdasarkan ciri fisik, ras, dan suku bangsa. Contohnya, sentimen pro abolisionis yang muncul di Amerika setelah masa perang revolusi. Orang kulit hitam di Amerika dipandang sebagai warga kelas bawah, tidak berpendidikan, dan sering diperbudak orang kulit putih.
Perbudakan semacam itu juga terjadi di masa Paulus. Onesimus adalah seorang budak yang melarikan diri. Dalam masa pelariannya, ia bertemu dengan Paulus yang saat itu dipenjara. Ia melayani kebutuhan sang rasul dalam masa penahanan. Sekalipun demikian, Paulus mengetahui apa yang terjadi antara Onesimus dan Filemon, tuannya. Karena itu, ia menulis surat permohonan agar Filemon bersedia menerima Onesimus kembali.
Dalam permohonannya, Paulus tidak menggunakan otoritasnya sebagai rasul dan bapak rohani Filemon (8). Sebaliknya, dengan kerendahan hati Paulus meminta kerelaan hati anak didiknya (9,14). Paulus menyadari bahwa kehadiran Onesimus banyak membantu kehidupannya. Akan tetapi, Filemon lebih berhak atas hidup "buah hati"-nya itu. Itu sebabnya ia berharap anak rohaninya dapat menerima Onesimus kembali bukan lagi sebagai budak, melainkan saudara seiman dalam Kristus (15-16).
Paulus dalam suratnya tidak turut campur menentang sistem perbudakan yang ada di zaman itu. Ia mengajarkan hal yang lebih penting, yaitu kasih. Melalui hal tersebut, seseorang dimampukan untuk menerima sesamanya yang berbeda, baik secara ras, status sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Ia mengajarkan bahwa semua derajat dan martabat manusia sama di mata Tuhan. Karena itu, jangan biarkan perbedaan apa pun menghalangi kasih dan kepedulian kita. Dalam Kristus, segala tembok pemisah itu dihancurkan agar kita dapat berelasi dan menyatakan cinta Allah dalam dunia.
Camkan: Merendahkan orang lain berdasarkan status sosial, ciri fisik, maupun tingkat ekonomi sama artinya dengan menghina Allah, Sang Pencipta!