Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Kebebasan
Rabu, 1 Oktober 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
1 Korintus 11:2-16
Audio Ayat
Audio Renungan
Ada lirik lagu yang berbunyi seperti ini, âwanita dijajah pria sejak dulu ....â Syair lagu Ismail Marzuki ini menggambarkan bahwa perempuan hidup dalam bayang-bayang kekuasaan laki-laki. Budaya yang berlaku dalam masyarakat Yahudi maupun masyarakat di Korintus memandang status perempuan sangat rendah. Dalam masyarakat Yahudi, hanya laki-laki yang diperkenankan memimpin doa dalam sinagoge. Sedangkan di Korintus, khususnya dalam penyembahan kepada dewi kesuburan di kuil-kuil penyembahan, para perempuan dijadikan pelacur bakti untuk menarik orang banyak kepada penyembahan berhala. Dalam tradisi orang Yahudi pun, perempuan tidak memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan laki-laki.
Dalam perikop ini, Paulus memberikan kebebasan kepada perempuan di dalam gereja. Hal ini tampak dari diperbolehkannya mereka melayani --- berdoa dan bernubuat --- dalam gereja. Selain kebebasan itu, Paulus memberikan persyaratan bagi kaum perempuan, yaitu perempuan harus mengenakan tudung saat mereka melayani di jemaat (7). Mengapa? Pertama, rambut perempuan menjadi pusat nafsu laki-laki dari dunia kuno Mediterania. Bagi mereka yang sudah menikah, tidak menudungi kepalanya menandakan ketidaksetiaannya kepada suaminya, dan ia secara tidak langsung menyatakan bahwa dirinya sedang mencari laki-laki lain. Mereka akan menjadi sama dengan para perempuan tunasusila yang memang mencari laki-laki. Kedua, dalam budaya Yunani dan Yahudi di mana suami adalah kepala dari isteri (3,8). Ketika istri tidak menudungi kepalanya, ia menghina suaminya. Itulah sebabnya Paulus menginginkan suatu perbedaan hakiki bagi kaum perempuan yang melayani, yaitu dia adalah perempuan yang setia terhadap suami dan menghormati suaminya.
Renungkan: Pengajaran Paulus mengingatkan kita bahwa kebebasan yang Allah berikan kepada kita untuk melayani haruslah digunakan menyinarkan kemuliaan kepala kita, yaitu Allah.