Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Menyelesaikan Konflik Internal
Jumat, 19 September 2025 — Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
1 Korintus 6:1-9a
Audio Ayat
Audio Renungan
Menyelaraskan ide dalam sebuah komunitas ternyata tidak mudah. Setiap orang berusaha mempertahankan pendapatnya, dengan berbagai cara sehingga teman pun menjadi lawan. Akibatnya, pertentangan dan perselisihan terus menerus terjadi. Imbauan agar jemaat Tuhan saling mengasihi, saling merendahkan hati, saling tunduk dan hormat satu dengan lainnya, dianggap angin lalu. Perselisihan ini bisa saja berujung di meja hijau karena saling menuduh. Masing-masing pihak merasa dirinya paling benar. Jika terus berkelanjutan, maka masalah ini tidak terselesaikan.
Keadaan ini membuat Paulus menegur jemaat yang menyelesaikan perselisihan di meja hijau atau pengadilan. Menurut Paulus, hal ini tidak akan terjadi seandainya masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (lih. Mat. 18:15-17). Teguran Paulus ini didasarkan pada dua hal: Pertama, masalah “perselisihan” dalam jemaat sebenarnya menunjukkan “kekalahan”, karena jemaat Kristen tidak berhasil hidup dalam kasih dan pengampunan. Kedua, sikap merasa diri paling benar membuat jemaat Kristen “rela” melakukan ketidakadilan dan merugikan orang lain. Teguran Paulus ini bukan mengajarkan jemaat untuk tidak percaya pada pengadilan dunia dan memberontak terhadap peraturan negara. Paulus menggarisbawahi bahwa saling mengampuni, menghargai, merendahkan diri, dan berlaku adil lebih baik daripada menyelesaikannya di meja pengadilan (bdk. Luk. 12:58).
Orang Kristen yang lebih memilih meja hijau dalam menyelesaikan masalah internal, sebenarnya menunjukkan bahwa secara moral jemaat ini kalah. Hal ini merupakan tanda, bahwa orang Kristen hanya bisa bicara tanpa dapat mengendalikan dirinya dan mengampuni saudaranya.
Renungkan: Perselisihan di antara orang Kristen hanya akan mendatangkan sikap tidak simpatik dan membuat orang semakin alergi terhadap kekristenan.