Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Rival Allah, Sang Naga
Sabtu, 20 Juni 2026 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Wahyu 12:1-12
Audio Ayat
Audio Renungan
Wahyu bukanlah catatan sejarah masa lampau atau gambaran kronologis masa depan. Wahyu memperlihatkan kedaulatan Allah atas dunia ini, atas sejarah, dan atas masa depan dari berbagai perspektif.
Pasal 12-13 memperlihatkan bagaimana rival Allah, yang diwakili si Naga (12:3), binatang yang keluar dari laut (13:1-2), dan binatang yang keluar dari bumi (13:11), yang melambangkan kekuatan tritunggal yang jahat/najis, berupaya mengacaukan karya penyelamatan Allah tritunggal atas dunia milik-Nya. Upaya tritunggal yang palsu itu tidak berhasil. Allah Tritunggal sejatilah yang mengendalikan sejarah, bahkan para musuh-Nya.
Si Naga merupakan musuh Allah yang mencoba merintangi rencana-Nya menyelamatkan kemanusiaan. Dia mencoba menggagalkan rencana itu melalui memusnahkan umat Allah Perjanjian Lama, yang dilambangkan oleh perempuan yang bermahkotakan 12 bintang, yang melaluinya Mesias dilahirkan (5, bdk. Mzm. 2:7). Alih-alih membinasakan Sang Mesias, si Naga justru mendapatkan kekalahan telak oleh karya penebusan sang Anak Domba (11). Dari sudut pandang surgawi, si Naga dan para pengikutnya tersebut dikalahkan oleh Mikhael dan para malaikatnya dan dilemparkan ke bumi (7-9). Perikop ini bukan membahas asal muasal Iblis sebagai malaikat yang memberontak, sebagaimana diajarkan oleh tradisi Yahudi dan Kristen tertentu.
Renungkan: Perikop ini juga tidak boleh dipakai untuk memetakan si Naga dan pribadi-pribadi tritunggal najis lainnya, kepada sosok pribadi, aliran agama, atau bahkan aliran kekristenan tertentu yang dianggap sesat. Perikop ini mencoba menggambarkan bahwa selama bumi belum dipulihkan kembali (Why. 21:1), selama itu pula kejahatan dan antek-anteknya terus merajalela. Namun, dua hal harus terus diingat dan menjadi penguatan dan penghiburan kita. Pertama, kuasa Iblis sudah kalah mutlak pada peristiwa kayu salib, 2000 tahun yang lalu. Kedua, Allah berdaulat, tidak ada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar izin-Nya.