Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Yang Baru Meniadakan yang Lama
Sabtu, 29 Juni 2024 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Matius 9:14-17
Audio Ayat
Audio Renungan
Pada malam hari orang menyalakan lampu atau lilin supaya tidak kegelapan. Bila matahari sudah terbit semua alat penerang itu tidak lagi diperlukan. Demikian juga dengan semua upacara agama yang biasa dipraktikkan orang-orang Farisi, para ahli Taurat, termasuk murid-murid Yohanes Pembaptis. Pada dasarnya peraturan-peraturan itu, misalnya berpuasa (14), dibuat untuk menolong orang mengharapkan kedatangan Mesias. Akan tetapi, Yesus Sang Mesias sudah hadir di tengah-tengah mereka. Mereka seharusnya berhenti menanti, dan mulai menikmati sukacita kehadiran-Nya (15). Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk sekadar menambalkan atau menambahkan sesuatu yang baru kepada ajaran agama yang lama. Kata "lama" (bahasa. Yunani: palaios) berarti aus atau usang karena pemakaian. Ajaran Yahudi telah menjadi begitu tidak fleksibel karena akumulasi dari tradisi-tradisi non alkitabiah selama berabad-abad. Ajaran Yahudi tersebut sudah berubah menjadi semacam upacara semata-mata yang malah menjauhkan mereka dari Allah. Tuhan Yesus bukan sedang menambahkan ajaran baru ke dalam wadah yang lama itu. Namun Tuhan Yesus sedang menyatakan bahwa masa yang baru (bahasa. Yunani: neos) dan kerajaan yang baru (bahasa. Yunani: kainos) sudah tiba dengan kehadiran/kedatangan-Nya. Dengan demikian, mereka yang ingin berbagian dalam kerajaan yang baru itu harus meninggalkan semua pemahaman agama dan sikap hidup yang lama lalu menerima Kristus dan hidup dalam kebenaran-Nya. Apakah pesan Tuhan Yesus ini dapat diartikan sebagai menolak tradisi rohani orang Kristen masa kini? Jawabnya: ya dan tidak. Kita tetap perlu bergereja, perlu berdoa, membaca Firman, dsb. Namun, semua kebiasaan rohani tersebut menjadi sia-sia kalau kita tidak akrab dengan Tuhan Yesus. Jika Tuhan Yesus hadir dalam hidup dan ibadah kita, pasti suasananya adalah kesukaan dan bukan kedukaan.