Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Yesus, Persembahan Sulung bagi Allah
Jumat, 15 November 2024 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Lukas 2:21-24
Audio Ayat
Audio Renungan
Sebagaimana keluarga Yahudi lainnya, keluarga Yusuf pun menerapkan tradisi, aturan, dan hukum Yahudi dalam diri Yesus. Ia disunat dan diberi nama Yesus - sesuai dengan nama yang ditetapkan oleh malaikan Tuhan - pada usia delapan hari, lalu ditahirkan. Menurut peraturan Taurat, Yesus harus dibawa ke Yerusalem untuk ditahirkan dan diserahkan kepada Tuhan dalam persembahan anak sulung. Semua peraturan itu baik dan berguna untuk kebaikan umat Israel sendiri. Hukum Yahudi merupakan bagian dari pengakuan mereka sebagai umat perjanjian, milik Allah. Peraturan sunat merupakan tanda terhisabnya seseorang ke dalam komunitas Israel. Sunat adalah respons umat terhadap ikatan perjanjian Allah dengan Israel (Kej. 17). Peraturan persembahan anak sulung adalah peraturan yang berlatarbelakang peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Menurut catatan Kitab Keluaran, waktu tulah terakhir yaitu semua anak sulung orang-orang Mesir dibinasakan, tetapi anak-anak sulung Israel diluputkan dari maut. Oleh sebab itu, Allah mengklaim semua anak sulung Israel adalah milik-Nya (Kel. 13:11-16). Yesus Kristus diutus Allah ke dalam dunia menjadi manusia untuk menggantikan sekaligus menyelamatkan manusia berdosa dari hukuman Allah. Sebagai orang Yahudi, Yesus menaati tuntutan Taurat, yaitu disunat dan dipersembahkan sebagai anak sulung kepada Allah. Akan tetapi, Dia juga adalah anak sulung Bapa yang menjadi manusia, lalu dipersembahkan sebagai anak sulung manusia. Semuanya itu rela dijalani-Nya supaya Dia dapat mengambil bagian dalam kutukan keberdosaan manusia, agar manusia lainnya diluputkan dari kutukan dan murka Allah. Apabila Yesus, yang adalah Putra tunggal Allah, rela dipersembahkan Maria dan Yusuf sebagai penggenap rencana Allah bagi dunia yang berdosa, apakah kita juga rela melakukannya bagi Allah?