Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Dasar untuk Mengasihi
Selasa, 15 April 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Yohanes 13:31-38
Audio Ayat
Audio Renungan
Sampai pembahasan nas ini, pikiran para murid masih belum juga terbuka tentang kematian Yesus di kayu salib. Kematian identik dengan perpisahan. Kematian juga menyatakan adanya jarak tak terseberangi yang tak mungkin dijangkau oleh manusia.
Itu sebabnya, para murid tidak dapat lagi mengikuti diri-Nya. Ini sungguh membingungkan murid-murid-Nya, yang diwakili oleh pertanyaan Petrus (36-38). Pertanyaan ini wajar sebab para murid-Nya selalu menyertai Dia. Saat Ia mengajar orang banyak, mereka pun ada di sana. Pengulangan kembali pernyataan Yesus tentang kepergian-Nya menandai sifat penting hal ini (33). Kelak, karena Yesus, Petrus dan semua murid Tuhan akan memikul salib mereka masing-masing demi mengikut Dia (36b; bdk. Mat. 16:24).
Sebenarnya, Yesus sedang berbicara mengenai kematian-Nya sendiri di kayu salib. Kematian yang justru akan menampakkan kemuliaan Allah Bapa dan diri-Nya dan sikap saling mempermuliakan di antara Allah Bapa dan Yesus. Hubungan seperti ini hanya terjadi dalam hubungan eksklusif Bapa dan Anak. Dampak lain kematian Yesus adalah membuka jalan bagi para murid-Nya dan setiap orang percaya menuju rumah Bapa (Yoh. 13:33, lih. Yoh. 14:2-3). Sebelum Ia pergi, Yesus memberi perintah untuk saling mengasihi (34-35). Itulah yang menjadi tanda murid Yesus (35).
Dasar salib adalah kasih Allah bagi umat-Nya. Tanpa kasih Allah maka salib tidak ada. Kita perlu belajar dan mengalami sendiri kasih Allah ini sebelum Tuhan dapat memakai kita menjadi alat anugerah-Nya untuk memperkenalkan Yesus kepada orang lain. Sama seperti Yesus yang rela memberikan nyawa-Nya untuk mengasihi manusia, demikian pula hendaknya kita rela memberikan waktu, daya, dan dana kita sebagai wujud kasih kita bagi orang lain.
Mengasihi adalah perintah bukan ajakan! Mengasihi orang lain harus berupa perbuatan nyata bukan angan-angan semata!