Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Hak Rasul dan Pemberitaan Injil
Jumat, 26 September 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
1 Korintus 9:1-18
Audio Ayat
Audio Renungan
Mungkin kita pernah mendengar rumor tidak baik mengenai sekelompok hamba Tuhan yang memasang tarif dalam pelayanannya. Kalau rumor itu benar, maka mereka harus meneladani Paulus dalam pelayanannya sebagai hamba Tuhan. Paulus dikenal sebagai salah satu hamba Tuhan yang melayani gereja-Nya tanpa pamrih. Meski demikian, ia tidak menentang jemaat yang hendak memberi. Ia juga tidak menentang apabila hamba Tuhan itu menerima pemberian umat.
Jemaat Korintus menyangsikan kerasulan Paulus karena ia tidak mau menerima bayaran dari mereka. Pada masa itu di dunia Yunani-Romawi, ada banyak guru agama dan filsuf yang menghidupi diri mereka sendiri dari menerima bayaran. Tetapi, ada juga yang menghidupi diri mereka tanpa menerima bayaran, khususnya para filsuf. Tindakan Paulus menolak bayaran berarti menolak tunduk pada si pembayar. Hal ini menyebabkan Paulus dihujat. Paulus membela dirinya dengan mengatakan bahwa kerasulannya itu terbukti dari buah-buah yang dilihat dan dinikmati oleh jemaat Korintus (1,2). Sebagai seorang rasul, Paulus memiliki sejumlah hak yang sama dengan para rasul lainnya (4,5). Paulus menyatakan bahwa dirinya berhak menerima bayaran dari jemaat Korintus. Alasannya, yaitu: pertama, pikiran logis manusia (6-8); dan kedua firman Tuhan Perjanjian Lama (9-10) mengatakan setiap pelayan jemaat berhak mendapatkan upahnya dari jemaat yang bersangkutan (11-12a).
Paulus menolak pemberian jemaat Korintus karena ia tidak mau menjadi batu sandungan dalam penginjilan. Mengapa? Pertama, pemberitaan Injil adalah tugas. Kedua, Injil yang diberitakannya memiliki makna lebih penting daripada upah yang berhak diterimanya. Sikap Paulus tersebut semakin menjelaskan kepada kita bahwa upah yang paling penting bagi Paulus adalah upah kebebasan untuk tidak menerima upah demi Injil (18).
Renungkan: Seberapa jauh kita berani mengorbankan hak kita demi Injil dan jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan?