Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Mewaspadai Rasul Palsu
Minggu, 9 November 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
2 Korintus 11:12-21a
Audio Ayat
Audio Renungan
Apa jadinya bila pengajaran palsu lebih disukai daripada pengajaran yang benar? Apa jadinya bila kebenaran dianggap sebagai kebodohan dan kebodohan dianggap sebagai kebenaran?
Melalui teks ini, kita melihat bahwa jemaat Korintus telah terjebak dalam kondisi yang terbalik. Paulus pun telah dianggap sebagai orang bodoh (16,19). Semua ini diakibatkan oleh pengaruh sekelompok orang yang Paulus sebut sebagai rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus (13). Orang-orang tersebut telah begitu dalam menancapkan pengaruhnya kepada jemaat Korintus, sehingga mereka tetap sabar meski diperhamba, dihisap, dikuasai, diperlakukan secara angkuh, dan bahkan ditampar oleh rasul-rasul palsu tersebut (19-20). Sebenarnya, Paulus sangat heran sekaligus sangat prihatin terhadap kondisi jemaat Korintus. Karena itu, Paulus menyindir dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang begitu bijaksana (19). Kata-kata itu menunjukkan sindiran halus Paulus kepada jemaat Korintus. Artinya, orang bodoh yang sesungguhnya bukan Paulus, melainkan jemaat Korintus itu sendiri.
Kita pun bisa saja terjebak ke dalam berbagai kebodohan. Mungkin saja kita, secara tidak sadar, telah menganggap diri kita sebagai orang-orang yang lebih berhikmat dari orang lain. Kita merasa bahwa ajaran yang kita terima lebih benar dari orang lain. Masa kini pun, banyak orang Kristen yang disesatkan oleh ajaran-ajaran dari sekelompok pekerja Kristus gadungan. Akibatnya, mereka jadi kagum dan tunduk kepada "hamba Tuhan". Kekaguman mereka melebihi ketundukan mereka pada ajaran Alkitab. Solusi terbaik untuk terhindar dari kondisi di atas adalah kembali kepada Alkitab. Kita harus rajin membaca dan merenungkannya secara pribadi. Alkitab harus menjadi sumber kebenaran tertinggi. Semua ajaran dan kesaksian pengalaman rohani harus tunduk kepada otoritas Alkitab.
Renungkan: Sudahkah anda menjadikan Alkitab sebagai sumber kebenaran tertinggi?