Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Pertumbuhan Iman
Senin, 9 Februari 2026 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
2 Timotius 1:3-5
Audio Ayat
Audio Renungan
Iman adalah sebentuk keyakinan kepada Allah. Kepercayaan tersebut muncul karena ada alasan tertentu, contohnya: ada orang yang percaya pada Yesus karena ia sudah mengalami mukjizat kesembuhan (band. Mat. 9:27-31, Luk. 17:15-19) atau karena membutuhkan pertolongan tertentu dari Allah (band. Mrk. 9:24).
Beriman karena pernah mengalami atau sedang membutuhkan kebaikan Tuhan, memang tidak salah. Namun, iman yang sejati tidak berhenti di situ saja. Iman yang hidup selalu mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan iman tersebut tampak lewat sikap hidup seseorang (4).
Sikap hidup seseorang banyak dipengaruhi oleh pendidikan yang di dapat dalam keluarga. Karena itu, Alkitab juga mengajarkan agar setiap orangtua mendidik anak mereka dalam iman dan firman (band. Ul. 6:6-9). Hal inilah yang diterima Timotius sejak masa kecilnya. Ia belajar akan kehidupan iman yang tulus dari ibu dan juga neneknya (5). Pengalaman hidup tersebut menjadi bekal bagi Timotius untuk bertumbuh dalam iman dan hidup dalam ketulusan. Karena pertumbuhan iman dan ketulusan yang ditunjukkan Timotius, maka Paulus mengucap syukur kepada Allah (3). Ucapan syukur tersebut juga menumbuhkan kerinduan Paulus akan kehadiran Timotius di sisinya (4).
Bertumbuh dalam iman merupakan kewajiban bagi tiap orang percaya. Iman bukan benda mati yang bersifat statis. Iman merupakan sesuatu yang hidup, dinamis, dan harus terus berkembang. Untuk itu, setiap orang percaya butuh berelasi dengan Tuhan. Hanya dengan bergantung pada Tuhan dan berelasi dengan-Nya, maka iman seseorang akan terus bertumbuh, semakin kuat tiap harinya (band. Yoh. 15:4-5).
Renungkan: Iman yang hidup selalu mengalami pertumbuhan. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mengupayakan pertumbuhan iman kita melalui pembacaan Alkitab, saat teduh, doa, serta relasi yang intim dengan Allah di setiap kondisi hidup kita. Sudahkah kita mengupayakan hal tersebut?