Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Tuhan: nama dan otoritas-Nya
Rabu, 21 Oktober 2026 — Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Keluaran 3:13-22
Audio Ayat
Audio Renungan
Setiap pemimpin paling tidak membutuhkan tiga hal dalam kepemimpinannya. Pertama, otoritas untuk mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Kedua, visi yang berasal dari Tuhan. Ketiga, kekuatan untuk mengatasi berbagai rintangan. Ketiga isu ini muncul dalam dialog Musa dan Allah.
“Siapa nama-Mu?”, merupakan pertanyaan penting karena apa yang akan dilakukan Musa bukanlah perkara kecil. Musa diutus untuk merubah kondisi dan nasib bangsa Israel. Visi itu secara manusiawi sangat mustahil diwujudkan. Untuk meyakinkan Israel bahwa visi ini harus diperjuangkan, Musa memerlukan ketegasan bahwa otoritas Allah saja sumbernya. Untuk menyelamatkan Israel dari perbudakan dan pemusnahan yang dicanangkan Firaun jelas memerlukan kuasa yang mampu menghancurkan kuasa dewa-dewi yang diandalkan orang Mesir.
Tuhan memperkenalkan nama-Nya: “Aku adalah Aku” (14). Nama itu unik karena merupakan kata kerja “ada” yang dikaitkan dengan ungkapan lain yaitu Yahweh adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Kedua ungkapan tersebut merupakan penegasan bahwa segala sesuatu bergantung penuh kepada-Nya. Ia satu-satunya Allah sejati yang berdaulat dan berkuasa penuh mengendalikan perjalanan sejarah. Dialah Allah yang mengikat perjanjian dengan Abraham dan sekarang sedang menggenapinya melalui Musa. “Aku yang adalah Aku ini” tidak dapat dielakkan baik oleh Musa, umat Israel, juga Firaun.
Jadi, tidak ada alasan bagi Musa atau Israel untuk meragukan kedaulatan Allah. Nama itu menjadi sumber visi dan otoritas Musa dalam memimpin Israel. Nama itu merupakan sumber kuasa Musa untuk menghadapi Firaun dan kekuatan-kekuatan mistik yang dia andalkan. Seharusnya Nama itu juga menjadi sumber visi, otoritas, dan kekuatan kita dalam penginjilan, pelayanan masyarakat, pelayanan gereja, dan karya-karya kita lainnya.
Renungkan
Ingat: Dia yang mengutus kita lebih besar daripada ilah-ilah dunia ini.