Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Bukan Meniadakan
Sabtu, 22 Agustus 2026 — Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Kejadian 25:19-34
Audio Ayat
Audio Renungan
Banyak orang menganggap bahwa jika Allah sudah menetapkan sesuatu, manusia tidak perlu bertanggung jawab atas hal itu. Namun, nas hari ini menunjukkan, walau ketetapan Allah pasti terjadi, kita tetap memiliki tanggung jawab.
Waktu Ribka mengandung kedua anak kembarnya, Allah bernubuat bahwa “anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (Kej. 25:23). Karena Allah adalah Allah yang berdaulat maka ini berarti bahwa walaupun Yakub adalah anak yang muda, tetapi dialah yang mendapatkan hak kesulungan.
Esau dan Yakub kemudian tumbuh dewasa. Suatu kali Esau kelaparan dan meminta masakan kacang merah milik Yakub. Sebagai imbalan, Yakub meminta hak kesulungan Esau (29-31). Yakub sangat serius hingga ia meminta Esau untuk bersumpah (33).
Yang menarik, walaupun tindakan Esau sebenarnya menggenapi apa yang telah dinubuatkan Allah, Alkitab mencatat bahwa Esau dikecam karena memandang enteng hak kesulungan (34). Mengapa Esau dianggap bersalah, padahal ia menggenapi apa yang telah ditetapkan Allah? Ternyata ketetapan Allah tidak menihilkan tanggung jawab manusia. Allah kita adalah Allah yang berdaulat maka setiap orang pasti akan menggenapi apa yang telah Dia rencanakan. Namun, orang yang menggenapi rencana Allah tersebut tetap bertanggung jawab atas perbuatannya.
Esau memandang ringan hak kesulungannya berarti ia memandang ringan perjanjian Allah dengan Abraham dan Ishak yang akan diwariskan kepada keturunan Ishak yang memiliki hak kesulungan. Ini menunjukkan bahwa ia tidak percaya terhadap perjanjian Allah itu. Sebab itu ia dikecam. Ia bertindak atas kehendaknya sendiri, untuk itu ia harus bertanggung jawab.
Jangan mengira bahwa karena segala sesuatu yang di muka bumi ini terjadi atas kehendak Allah, maka kita mengalihkan tanggung jawab atas perbuatan salah kita kepada Allah. Ingatlah bahwa ketetapan Allah bukan meniadakan tanggung jawab manusia (bdk. Luk. 22:22).