Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Hubungan dengan Tuhan
Senin, 10 Agustus 2026 — Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Kejadian 20:1-18
Audio Ayat
Audio Renungan
Perikop yang kita baca ini menyodorkan dua tokoh yang memainkan peranan yang tak terduga. Abraham yang disebut “seorang nabi” ternyata berbohong, melacurkan istrinya (2), dan berupaya merasionalisasi kebohongannya (11-13). Sementara Abimelekh dikatakan telah bertindak “dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.” Setelah 25 tahun, rupanya Abraham tetap belum belajar dari kesalahannya yang lalu (bdk. Kej. 12:10-20). Ia mengulangi kesalahan yang sama. Karena kekhawatiran akan nyawanya sendiri (11), ia tega berbohong dan hampir melacurkan istri yang telah puluhan tahun dia nikahi. Kesalahan Abraham ini kemudian menjadi jerat bagi Abimelekh dan bangsanya sehingga tanpa sengaja mereka berbuat salah.
Bagaimana respons Tuhan? Tuhan mencegah Abimelekh “berbuat dosa” (6). Ia tidak membiarkan Abimelekh mendekati Sara. Namun, karena Abimelekh telah melakukan sebuah tindakan ofensif terhadap Tuhan maka ia perlu minta pengampunan dari Tuhan.
Menarik bahwa Tuhan menyuruh Abimelekh mengem-balikan Sara kepada Abraham dan meminta Abraham berdoa bagi dia. Pada masa itu dibutuhkan perantaraan nabi (artinya: “juru bicara”) untuk berdoa kepada Tuhan. Abraham adalah seorang nabi. Kendati dia berdosa, dosanya tidak lantas meniadakan peran kenabiannya. Bahkan Abimelekh yang terjerat dosa perlu meminta Abraham berdoa untuk keselamatan diri dan bangsanya.
Hubungan Abraham dengan Tuhan adalah hubungan yang permanen, melampaui keberdosaan Abraham. Bila kita terjatuh ke dalam dosa walau sudah punya hubungan pribadi dengan Tuhan, jangan ragu untuk kembali kepada Tuhan. Dia tidak membuang kita. Sebaliknya, kalau seperti Abimelekh yang belum memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, ingatlah bahwa ketidakberdosaan Anda tidaklah cukup untuk menghampiri Tuhan. Tidak ada orang yang memiliki “tangan yang suci” (5-6). Standar kita bukanlah standar Tuhan. Maka izinkan Tuhan menjamah hidup Anda.