Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Mewujudkan Anggur Baru
Rabu, 26 Februari 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Yohanes 2:1-12
Audio Ayat
Audio Renungan
Pada masa Yesus, agama sering menjadi semacam status sosial bagi para pengikutnya, terutama para pemimpinnya. Dalam situasi semacam itu, ketaatan pada aturan-aturan agama bisa membuat orang merasa lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.
Tuhan Yesus, Sang Firman dengan misi pengurbanan demi keselamatan manusia, justru memulai pelayanan-Nya dengan hadir dan menyatakan berkat-Nya pada sebuah perjamuan kawin di Kana. Kehadiran-Nya sebagai salah seorang tamu sepertinya biasa-biasa saja. Namun, makna di balik kehadiran-Nya luar biasa. Perhatian Yesus ditujukan kepada manusia dalam kebutuhan sehari-hari mereka. Yesus lebih memilih berada di tengah orang kebanyakan daripada di antara para pemimpin agama, karena pada kelompok orang yang pertama ada iman yang polos tanpa pretensi.
Iman Maria yang berpaling kepada Yesus ketika masalah datang, yang ditunjukkannya pada ayat 3: âMereka kehabisan anggur,â adalah pernyataan ketergantungannya kepada putra sulungnya (3; lihat Mrk. 6:3a). Namun komentar Tuhan Yesus, âMau apakah engkau dari pada-Ku...?â menegaskan perlunya menyapa Dia dengan iman seorang murid agar melihat karya Allah yang mengubah masalah menjadi berkat. Hingga selanjutnya, melalui ketaatan seorang murid, anggur baru membuat pasangan yang baru menikah ini terhindar dari rasa malu (10).
Karya Yesus pada perkawinan di Kana adalah pernyataan kepedulian Allah atas kehidupan manusia berdosa yang sarat bencana dan tragedi. Kristus hadir bukan untuk membangkitkan berbagai diskusi teologis mengenai siapa diri-Nya. Dia hadir untuk memberikan anggur baru kehidupan dalam hubungan-hubungan agar diperbarui. Kepedulian-Nya pada relasi antar manusia harus menjadi teladan kita, para murid-Nya. Mari kita ujudkan iman kita bukan sekadar lip service menyapa sesama kita dengan âsyalomâ, tetapi dengan menghadirkan damai sejahtera dari Allah bagi sesama di sekitar kita.