Gemar Membaca Alkitab
Mari bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Firman Tuhan setiap hari melalui renungan dan penelaahan Alkitab.
Strategi Pemasaran?
Minggu, 16 Maret 2025 â Santapan Harian x GKI Perniagaan
Ayat Renungan
Yohanes 7:1-13
Audio Ayat
Audio Renungan
Di akhir pasal 6, tampaknya misi Tuhan Yesus akan segera usai. Bukan saja kebanyakan orang Yahudi tidak percaya, sebagian besar para murid-Nya pun meninggalkan Dia. Dalam situasi demikian datanglah nasihat dari kalangan âdalam.â Saudara-saudara Yesus kelihatannya peduli padahal tidak demikian (5). Nasihat mereka logis dari sisi pemasaran, bila ingin dapat banyak pengikut maka demonstrasikan sesuatu yang dapat meyakinkan banyak orang (3-4). Saat itulah waktu yang paling tepat, yaitu saat Yerusalem sedang dalam suasana perayaan Pondok Daun karena semua orang Yahudi dari penjuru dunia hadir di sana.
Yesus menolak anjuran tersebut karena waktu-Nya belum tiba (6). Waktu-Nya adalah penggenapan rencana Allah dalam kematian-Nya supaya orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup di dalam Dia. Memang saat itu Ia sudah dituduh sebagai penyesat, dan tuduhan itu dapat mengarah pada ancaman hukuman mati. Namun waktu kematian Tuhan Yesus bukan ditangan para musuh-Nya, melainkan di tangan Allah Bapa. Yesus juga memaparkan bahwa waktu mereka berbeda sebab pola pikir mereka tidak sesuai dengan Allah.
Perikop ini mengajarkan kepada kita strategi Kristus menghadapi dunia yang menolak Dia. Dengan menghindarkan diri masuk ke Yerusalem, Ia pun menegaskan bahwa hidup dan karya-Nya tidak disesuaikan dengan permintaan pasar, tetapi dengan kehendak Allah. Tindakan ini sekaligus melukiskan sifat kedatangan-Nya dari surga dan kepergian-Nya kembali ke surga dengan cara-cara di luar dugaan manusia. Pada saat yang tepat Ia akan muncul dan menyatakan misi-Nya.
Setiap orang yang percaya kepada Kristus dipanggil juga untuk tampil di hadapan dunia ini guna menyatakan kebenaran Allah. Maka prinsip dan pola hidup serta pelayanan kita pun tidak boleh ditujukan hanya untuk menyenangkan orang banyak semata. Akan tetapi, seluruh hidup yang kita miliki seharusnya dipergunakan atau dimanfaatkan untuk menaati kehendak Allah saja!