Pengantar Surat KOLOSE
Sebagai pelayan Injil, Paulus sadar bahwa jemaat bukan hanya perlu dikuatkan secara iman. Mereka butuh dididik dan didorong untuk memahami serta melakukan firman Tuhan dalam kehidupan nyata. Pengertian firman Tuhan yang benar dapat membuat seorang mengalami perubahan dalam cara berpikir dan bersikap sehari- hari, terutama saat menghadapi permasalahan sulit. Hal inilah yang hendak Paulus terapkan dalam suratnya kepada jemaat di Kolose.
Pada masa itu, jemaat Kolose menghadapi permasalahan mengenai munculnya ajaran-ajaran palsu yang mencoba menyimpangkan iman jemaat dari Kristus (2:8-23). Pengajaran ini didasarkan dari pengetahuan filsafat dan berbagai tradisi tertentu yang mencoba melemahkan khasiat dari karya keselamatan Kristus di kayu salib. Caranya, dengan menambahkan peraturan-peraturan seperti hukum tentang makanan (16), penyembahan kepada malaikat (18), dan lain sebagainya.
Di sisi lain, kenyataan bahwa jemaat Kolose terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi, memengaruhi kerjasama yang ada di antara jemaat. Untuk mengantisipasi adanya perpecahan akibat pengelompokan di dalam jemaat, Paulus di akhir suratnya menekankan adanya transformasi hidup yang terbukti nyata dari sikap saling menghargai, menghormati, serta mendukung dalam pelayanan maupun kehidupan sehari-hari. Pelbagai hukum mengenai relasi suami-istri, orangtua-anak, dan tuan-hamba, menjadi bukti nyata perhatian Paulus akan kehidupan komunal yang penuh kasih dan saling menumbuhkan dalam iman.
Dengan membaca, memahami, serta merenungkan surat Kolose ini, Anda dapat mengerti dan merasakan bagaimana pentingnya pemahaman iman yang benar akan jati diri dan Karya Kristus. Pengertian akan siapa dan apa karya Kristus akan memengaruhi cara kita dalam bersikap, berkata-kata, serta mengambil keputusan sehari-hari. Transformasi hidup inilah yang menjadi kunci kekuatan kita untuk dapat menjalani dan menghadapi tantangan iman di zaman modern ini.