Pengantar Surat Tesalonika
Mempertahankan iman kepada Kristus bukanlah perkara yang mudah. Untuk menjaga kemurnian di tengah godaan, tantangan, bahkan penderitaan, kadangkala memerlukan pengorbanan. Paulus mengerti benar hal ini. Melalui pengalaman demi pengalaman dalam pelayanan pemberitaan Injil, tentu Paulus sadar bahwa hal ini sungguh berat. Karena itu, Paulus ingin menguatkan iman jemaat di Tesalonika untuk dapat terus menjaga kemurnian iman mereka.
Jemaat Tesalonika adalah jemaat yang cukup besar. Mayoritas merupakan orang non-Yahudi. Hal ini disebabkan karena kondisi sosial kota Tesalonika yang merupakan salah satu kota pelabuhan yang cukup ramai pada masa itu. Selain sebagai kota pelabuhan, Tesalonika juga menjadi salah satu pusat pendidikan serta lokasi penyembahan dewa-dewi Yunani terbesar masa itu. Ketika Injil masuk dan diterima oleh beberapa orang di Tesalonika, akibatnya beberapa tokoh agama Yunani mulai bereaksi dengan berbagai cara untuk menganiaya dan menghambat perkembangan Injil.
Dalam kondisi seperti itu, Paulus mengingatkan kembali bahwa di dalam Kristus tersimpan pengharapan. Kedatangan Kristus kali kedua menjadi pengharapan bagi tiap jemaat agar terlepas dari penderitaan. Selain itu, kehadiran Kristus untuk kedua kalinya juga menjadi bukti nyata bahwa iman Kristen adalah iman yang sejati. Di sanalah setiap orang percaya akan memperoleh kebahagiaan sejati bersama Kristus. Karena itu, tiap umat perlu menjaga kemurnian imannya di hadapan Allah. Meskipun demikian, ternyata ada kesalahpahaman yang terjadi di jemaat akibat surat Paulus yang pertama. Maka, dalam surat kedua, Paulus kembali menjelaskan secara lebih rinci apa yang dimaksudkannya. Bagi Paulus, yang terpenting bukan kapan Kristus hadir, namun bagaimana kita mempersiapkan diri menyambut kehadiran-Nya.
Mempersiapkan diri menyambut kehadiran Allah untuk kali kedua juga menjadi bagian dari perjalanan hidup kita di masa ini. Kita tidak pernah tahu dengan pasti, kapan Kristus akan datang. Namun dari pembacaan dan perenungan surat ini, kita disadarkan kembali pentingnya menjaga kemurnian iman kita dan hidup menyenangkan- Nya. Sehingga, ketika Ia datang kali yang kedua, kita ditemuinya layak dan setia sebagai hamba-hamba-Nya.