Pengantar Surat TIMOTIUS
Berbeda dengan surat Kolose atau Tesalonika, surat kepada Timotius lebih bersifat personal. Ini adalah surat pribadi Paulus yang dituliskan secara khusus untuk salah satu murid terdekat sekaligus rekan kerjanya, Timotius. Pertemuan mereka pertama kali terjadi di Listra, dalam salah satu perjalanan pelayanan Paulus. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Timotius memutuskan untuk bergabung dalam perjalanan Paulus dan Silas.
Sebagai seorang murid, tentu Timotius telah belajar banyak dari Paulus. Tetapi, realitas dunia pelayanan yang dihadapi ternyata tidaklah mudah. Pengajaran dari guru-guru palsu (1Tim. 1:7), permasalahan otoritas (1Tim. 4:12), juga perihal manajemen gereja (1Tim. 3), menjadi salah satu problem penting yang dihadapi olehnya. Tentu ia membutuhkan arahan dan saran dari sang guru. Namun, kondisi yang jauh membuatnya tak dapat dengan mudah untuk mencari Paulus dan memohonkan petunjuk.
Di pihak lain, Paulus yang mungkin mendengar kabar dari orang lain, bersegera untuk menuliskan surat kepada Timotius. Suratnya yang pertama lebih banyak memberikan arahan dan nasihat bagi muridnya yang masih muda ini. Untuk tetap teguh dalam iman, serta menunjukkan cara hidup yang benar. Hal ini ditujukan untuk membangun sebuah wibawa rohani bagi Timotius, agar apa yang disampaikannya dapat didengarkan oleh orang-orang yang jauh lebih tua. Selain itu, ia juga memberikan aturan-aturan, baik dalam memilih pelayan maupun dalam menghadapi pengajaran palsu. Ini adalah bukti perhatian dan kasihnya sebagai seorang guru.
Dalam surat kedua, kondisi Paulus sudah semakin kritis. Hukuman mati semakin mendekat. Karena itu, ia hanya berusaha terus menguatkan iman Timotius lewat teladan pelayanannya selama ini. Pesan-pesan ini disampaikan agar muridnya ini sanggup bertahan dalam pelayanan serta menjadi hamba Allah yang setia.
Meski surat ini ditujukan secara personal kepada Timotius, namun nasihat serta ketetapan yang Paulus ajarkan jelas sangat relevan bagi kita saat ini. Di tengah carut marut kehidupan, pesan Paulus dapat menjadi jawaban yang kuat bagi hidup kita. Terutama di saat kita ada dalam ladang pelayanan. Tata cara memilih pengurus dan pelayan gereja, hingga standarnya tentang hidup seorang hamba Tuhan adalah pedoman untuk kita tetap dapat menjaga iman kita di tengah dunia ini.