Pengantar Surat FILEMON

Paulus menulis "surat penjara" ini (Flm. 1:1,9) sebagai surat pribadi kepada seorang bernama Filemon. Kemungkinan besar surat ini ditulis oleh Paulus saat ia ditahan dalam penjara di Roma (Kis. 28:16-31). Yang menarik di sini adalah surat kepada jemaat Kolose juga ditulis Paulus dalam penjara dan kurirnya adalah Filemon (Flm. 1:1-2,10,23-24; Kol. 4:9-10,12,14,17).

Filemon menjadi pemilik hamba (Flm. 1:16) dan anggota gereja di Kolose (bdk. Flm. 1:1-2; Kol. 4:17). Ia bertobat dibawah pelayanan Paulus (Flm. 1:19). Sedangkan Onesimus adalah budak Filemon. Ia melarikan diri dari tuannya. Dalam pelariannya, ia bertemu Paulus di penjara. Melalui Paulus, Onesimus mengalami pertobatan. Tanpa diduga terjadi ikatan persahabatan yang kuat antara Paulus dengan Onesimus (Flm. 1:9-13). Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa Paulus sangat menyayangi Onesimus – disebutnya anak, buah hatiku – (10,12). Ia bersedia membayar ganti rugi yang disebabkan Onesimus kepada Filemon (18,19). "Onesimus" dalam bahasa Yunani berarti “yang berguna atau menguntungkan.” Kini, sesudah menerima Kristus, nama itu benar- benar digenapi (11).

Paulus mengerti situasi hidup para budak waktu itu. Mereka tidak dianggap sebagai manusia oleh majikannya. Budak hanyalah benda mati yang hidup dan majikannya berhak melakukan apa saja terhadap para budaknya. Namun, pertemuan dengan Kristus membuat segalanya berubah. Peristiwa pelarian itu sendiri dinilai Paulus sebagai kesempatan bagi Filemon belajar menerima kembali Onesimus dalam hubungan baru dalam Kristus. Paulus menyarankan Filemon menerima Onesimus bukan sebagai hamba pelarian, tetapi sebagai saudara dalam Kristus. Hubungan seperti ini yang terpancar oleh orang Kristen terhadap sesamanya, yaitu hubungan kemanusiaan baru tanpa dirintangi oleh sekat suku, tingkatan, latar belakang, dan lain sebagainya. Betapa indahnya apabila hubungan kemanusiaan baru itu dapat terwujud dalam gereja masa kini.