Pengantar Surat YAKOBUS

Usia tidak selalu menandakan kedewasaan pribadi seseorang. Idealnya, pertambahan usia akan berdampak pada kematangan pribadi dan rohani seseorang. Sayangnya, yang ideal tidak selalu menjadi kenyataan. Hari demi hari orang Kristen harus berhadapan dengan kegagalan akibat ketidakmatangan dirinya sendiri. Oleh karena itu, surat Yakobus ditulis untuk menolong orang percaya memahami dan mencapai kematangan rohani (1:4). Bukankah hal itu masih relevan untuk orang percaya zaman ini?

Yakobus menulis surat ini kepada kedua belas suku di perantauan (1:1). Yang dimaksud adalah orang Israel, yang tersebar ke berbagai tempat sejak pembuangan ke Asyur dan Babel (band. Kis. 2:5-11). Di berbagai tempat di perantauan itulah, mereka menghadapi masalah. Misalnya, ketidaksabaran dalam menghadapi pencobaan (1:1-4), tidak hidup dalam kebenaran (2:14- dst.), kurang mengendalikan lidah (3:1-dst.), bertengkar (4:1-dst.), mengumpulkan harta/serakah (5:1-dst.), dan sebagainya.

Yakobus adalah seorang yang praktis. Itu nyata dalam suratnya. Ia melihat kemunafikan yang terjadi di antara orang percaya, yakni adanya ketidaksesuaian di antara iman dan tindakan dalam kehidup-an mereka sehari-hari. Padahal, menurut Yakobus, bila ada orang yang mengatakan bahwa ia memiliki iman, maka seharusnyalah perilakunya serasi dengan imannya. Ketika ia berbicara tentang kasih maka yang dimaksud bukanlah kasih yang hanya di bibir saja. Melainkan harus sampai pada tindakan, misalnya kasih yang dinyatakan dengan memberikan makanan kepada orang miskin yang sedang kelaparan. Demikianlah Yakobus mengajar tentang bagaimana seharusnya orang percaya bersikap. Apa yang kita akui dan percayai, semestinya dibuktikan dengan bagaimana kita hidup. Orang memang diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman yang menyelamatkan tidak berjalan sendirian! Harus terwujud dalam sikap dan tindakan yang benar! Kiranya selama menelusuri surat Yakobus bersama Santapan Harian, Tuhan menolong kita bertumbuh dan menjadi dewasa!